Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, Allahumma
shalli ‘ala sayyidina wa maulana wa habiibina wa syafii’ina Muhammadin
wa ‘ala alihi wa shahbihi wa baarik wa sallim.
Menurut saya, membaca al quran kita, itu belum seperti ‘membaca’ al
quran yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw. Sebab perintah Rasulullah
Saw. membaca, itu sebenarnya perintah untuk memahami isi al Quran, dan
bukan sekedar perintah membaca dalam arti ‘membunyikan’ huruf-hurufnya
saja. Padahal selama ini (dan bahkan --nampaknya-- akan selama-lamanya),
bacaan quran kita hanya seperti itu, membunyikan huruf-huruf,
menyuarakan lafadz-lafadz, tanpa mengerti apa ‘isi’ yang kita baca itu
sama sekali.
Bukankah ini ‘sesuatu’ yang sangat aneh? Sesuatu yang sangat lucu? Tapi (sekaligus) juga sesuatu yang sangat memprihatinkan dan sangat memalukan? Bagaimana tidak? Bukankah al Quran itu kitab suci kita, pedoman hidup kita? Tapi mengapa kita telah merasa cukup bahkan merasa puas dengan ‘tidak mengetahui’ isinya apa? Bahkan sekedar ingin tahu ‘isinya apa’ pun (sepertinya) tidak tertarik? .
Astaghfirullahal ‘adziim. Sungguh ini merupakan kesesatan yang nyata, kekeliruan yang jelas, tapi tak disadari oleh kebanyakan umat islam.Kita umat islam, harus tahu isi al Quran, karena itu kitab suci kita, dan kita harus mengamalkannya karena itulah pedoman hidup kita. Ini harga mati, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan karena kita orang Indonedia, yang tidak faham sama sekali dengan bahasa Arab, maka seribu kalipun kita membaca al Quran (atau bahkan sampai hafal luar kepala), tetap saja kita tidak akan ‘mengetahui’ isinya.
Lantas bagaimana kita bisa mengetahui isi al Quran? Apakah kita harus membaca al quran dan tarjamahannya kemudian kita fahami sendiri apa maksudnya gitu? Tentu saja tidak!. Sungguh tidak ada jalan lain untuk bisa mengetahui isi ajaran al Quran dengan benar dan lurus, kecuali hanya dengan “memiliki majlis ngaji” yang disitu dibacakan kitab-kitab karya para ulama salafus salih, atau yang dikenal dengan kitab-kitab kuning.
Karena hanya kitab-kitab mereka itulah yang dengan tuntas dan ihlas ‘menjelaskan’ apa saja yang menjadi “isi ajaran” al Quran dan al Hadits sebagai “dua warisan” Rasulullah yang siapapun tidak akan tersesat selagi berpegang teguh kepada keduanya. Dan hanya para ulama lah “para pewaris” warisan itu.
Wallahu a’lamu bish shawaab, wahuwal mufaffiq ila aqwamit thariiq.
Sabtu Paing, Jam 12 WIB.(27 Juli 2013)
Bukankah ini ‘sesuatu’ yang sangat aneh? Sesuatu yang sangat lucu? Tapi (sekaligus) juga sesuatu yang sangat memprihatinkan dan sangat memalukan? Bagaimana tidak? Bukankah al Quran itu kitab suci kita, pedoman hidup kita? Tapi mengapa kita telah merasa cukup bahkan merasa puas dengan ‘tidak mengetahui’ isinya apa? Bahkan sekedar ingin tahu ‘isinya apa’ pun (sepertinya) tidak tertarik? .
Astaghfirullahal ‘adziim. Sungguh ini merupakan kesesatan yang nyata, kekeliruan yang jelas, tapi tak disadari oleh kebanyakan umat islam.Kita umat islam, harus tahu isi al Quran, karena itu kitab suci kita, dan kita harus mengamalkannya karena itulah pedoman hidup kita. Ini harga mati, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan karena kita orang Indonedia, yang tidak faham sama sekali dengan bahasa Arab, maka seribu kalipun kita membaca al Quran (atau bahkan sampai hafal luar kepala), tetap saja kita tidak akan ‘mengetahui’ isinya.
Lantas bagaimana kita bisa mengetahui isi al Quran? Apakah kita harus membaca al quran dan tarjamahannya kemudian kita fahami sendiri apa maksudnya gitu? Tentu saja tidak!. Sungguh tidak ada jalan lain untuk bisa mengetahui isi ajaran al Quran dengan benar dan lurus, kecuali hanya dengan “memiliki majlis ngaji” yang disitu dibacakan kitab-kitab karya para ulama salafus salih, atau yang dikenal dengan kitab-kitab kuning.
Karena hanya kitab-kitab mereka itulah yang dengan tuntas dan ihlas ‘menjelaskan’ apa saja yang menjadi “isi ajaran” al Quran dan al Hadits sebagai “dua warisan” Rasulullah yang siapapun tidak akan tersesat selagi berpegang teguh kepada keduanya. Dan hanya para ulama lah “para pewaris” warisan itu.
Wallahu a’lamu bish shawaab, wahuwal mufaffiq ila aqwamit thariiq.
Sabtu Paing, Jam 12 WIB.(27 Juli 2013)
No comments:
Post a Comment