Wednesday, November 15, 2017

YANG MENYEBABKAN MURTAD (LANJUTAN)-2

Termasuk yang menyebabkan murtad yang berkaitan dengan aqidah, yaitu apabila ‘menghalalkan’ apa yang oleh para ulama telah disepakati ‘keharamannya’, seperti berzina, mencuri, ghosob, membunuh, menganiya, dll. 


Atau ‘mengharamkan’ apa yang oleh para ulama telah disepakati ‘kehalalannya’, misalnya mengharamkan menikah dan memilih membujang.

Atau ‘mengingkari wajibnya’ sesuatu, yang oleh para ulama telah disepakati ‘wajibnya’, seperti mengingkari wajibnya shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, zakat, haji, wudhu ketika akan shalat, atau bahkan meski hanya mengingkari wajibnya ruku’ atau sujud dalam shalat.

Di sini kita harus hati-hati, sebab kadang-kadang tanpa kita sadari, kita ‘menghalalkan’ sesuatu yang oleh para ualama telah disepakati keharamannya. Misalnya ketika kita ‘mengghibah’ (ngrasani alane liyan) kemudian ada yang menegur kita, maka kita menjawabnya dengan “ra papa ding mbangane ra omong” (alah nggak apa-apa dari pada hanya diam saja).

Kita harus faham, antara ‘melanggar’ haram, dengan ‘mengingkari’ haram. Kita maksiat dan berdosa dengan melanggar haram, dan kita menjadi murtad dan kafir karena mengingkari haram.
Wallahu a'lamu bish showab, wallahu yahdi ila aqwamith thariiq.

BAHAYA THULUL AMAL

Ketahuilah bahwa termasuk perkara yang sangat berbahaya bagi manusia, ialah tulul amal. Tulul amal ialah 'merasa yakin bahwa hidupnya masih akan lama dan merasa belum akan mati'. Jika kita merasa bahwa hidup kita masih akan lama, dan merasa bahwa kita belum akan mati, berarti kita termasuk orang yang tulul amal, dan berarti pula kita berada dalam keadaan yang sangat bahaya.

Tulul amal merupakan perkara yang sangat ditakutkan oleh Rasulullah apabila terjadi pada umatnya, dikarenakan tulul amal bisa menyebabkan seseorang menjadi 
 (1) berani melakukan maksiat, 
(2) malas melakukan kebaikan, 
(3) serakah, dan rakus terhadap harta dunia, dan 
(4) melupakan akherat, 
(5) menunda-nunda taubat. 

Dan inilah perkara-perkara yang paling banyak menyebabkan terjadinya 'suul khotimah' (mati dalam keadaan kafir) pada seseorang. Na'udzu billaahi min dzaalik.

Itulah sebabnya kita harus banyak dzikrul maut (mengingat-ingat kematian) agar kita selalu sadar bahwa hidup ini hanya sangat sebentar, karena sesungguhnya kematian selalu mengintai, membayangi, dan siap merenggut nyawa kita kapan saja, di mana saja, tak mengenal tua atau muda, miskin atau kaya, sehat atau sakit. Semuanya pantas mati, bisa mati, dan pasti mati. Bisa kapan saja dan di mana saja, tanpa kita bisa menduganya.

MELECEHKAN, MENISTAKAN DAN MENGHINA AGAMA ISLAM" yang sebenarnya

ALLOHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINA MUHAMMAD WA'ALAA AALIHI WASHOHBIHI WABAARIK WASALLIM.

Menurut saya, apa yang telah dilakukan oleh ACONG GUNAWANI, inilah yang namanya "MELECEHKAN, MENISTAKAN DAN MENGHINA AGAMA ISLAM" yang sebenarnya.
SEBAGAI MUSLIM, saya sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata kotor dan najis yang ia tuduhkan kepada Nabi saya, Junjungan saya, Panutan saya, Kecintaan saya Rasulullah Shollallohu 'alihi wa sallama wa 'ala aalih. Karena saya sangat mengenali, mengimani dan mencintai beliau tanpa keraguan sedikitpun dan takkan pernah tergoyahkan selamanya.


SEBAGAI MUSLIM, saya sangat marah dan sangat tidak rela Nabi panutan saya dihina sedemikian rendah dan hina. Demi Allah saya sangat marah dan tidak rela. Tapi saya harus menahan amarah saya, karena saya sudah sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa beliau Rasulullah MUHAMMAD Shollallohu 'alihi wa sallama wa 'ala aalih adalah mahluk Allah yang TERBAIK, TERMULIA. dan TERTINGGI baik di bumi dan di langit, di dunia dan di akherat.

Penghinaan dan olok-olok serta tuduhan-tuduhan palsu yang dilontarkan oleh orang-orang kafir seperti ACONG GUNAWANI tidak akan mengurangi sedikitpun dari kemuliaan beliau, tetapi justru menampakkan KEGOBLOGAN, KETOLOLAN, KENGAWURAN dan KEASAL JEPLAKAN mulut-mulut kotor mereka yang asal bacot tanpa bukti sama sekali.

Sebagai WARGA NEGARA yang patuh hukum, saya menuntut keras supaya PENEGAK HUKUM segera bertindak menangkap dan menghukum ACONG GUNAWANI dan penista2 agama lainnya dengan hukumah yang seadil-adilnya.

HASBUNALLOHU WA NI'MAL WAKIIL NI'MAL MAULAA WA NI'MAN NASHIIR.....

CARILAH AKHERAT, MAKA KAMU AKAN DAPATKAN DUNIA DAN AKHIRAT.

Dalam al Quran Allah ta'ala telah berfirman : " Barang siapa yang menghendaki keuntungan akhirat, maka Aku akan menambahkan kepadanya keuntungan dunia. Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia, maka akan Aku berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan di akherat nanti tidak ada bagian apa-apa baginya. (QS. As Syuura : 20)

Maha benar Allah dengan segala firmanNya, maha pasti Allah dengan segala janjiNya. Dalam ayat ini, Allah memberitahukan kepada kita, bahwa jika kita menginginkan (keuntungan) dunia, maka caranya adalah dengan kita mencari (keuntungan) akherat. Sebab menurut ayat ini, dengan kita mencari (keuntungan) akherat, maka (keuntungan) dunia akan diberikan kepada kita, sebagai bonus dari keuntungan akherat yang kita cari.

Tapi jika kita hanya mencari (keuntungan) dunia tanpa memperdulikan keuntungan akherat, maka kita akan kehilangan (keuntungan) akherat, sehingga di akherat kita tidak akan memiliki bagian apa-apa lagi. Padahal (keuntungan) dunia yang diberikan kepada kita, tetap saja hanya apa yang telah Allah tetapkan untuk kita, tidak kurang tidak lebih.

Pemahaman seperti ini, tentu sangat sulit untuk diterima logika, karena logika hanyalah hasil kerja akal, dan akal hanyalah sangat terbatas kemampuannya. Itulah sebabnya jika kita ingin bisa menerima kebenaran pemahaman seperti ini, serta ingin merasakan kebenarannya, maka yang harus kita lakukan adalah :
 (1) kita harus memahaminya dengan iman, dan
(2) kita harus membuktikannya dengan 'hanya mencari keuntungan akhirat', yaitu dengan menggunakan semua fasilitas yang kita miliki dalam hidup ini hanya untuk mencari ridha Allah dan pahala akherat.

Wallahul Mufaffiq Ilaa Aqwamit Thariiq.

MEMBACA AL-QUR'AN YANG SESUNGGUHNYA

Bismillahirohmanirrohim
Kalau kita cermati dan kita sepakati bahwa yang namanya “membaca” itu adalah “mengambil pengertian” dari apa yang dibaca, berarti selama ini kita belum pernah membaca al Qur-an, tetapi kita baru "membunyikan" atau "menyuarakan" huruf-huruf al Qur-an.

Padahal perintah “membaca al Qur-an” yang dikehendaki oleh Rasulullah SAW (menurut saya) adalah “mengambil pengertian” dari apa yang terkandung di dalam al Qur-an, yang berupa tuntunan yang harus kita pegangi, petunjuk2 yang harus kita patuhi, perintah2 yang harus kita laksanakan, dan larangan2 yang harus kita jauhi.

Walhasil, kita harus menghadiri majlis2 ta’lim yang di situ dibacakan kitab2 karya para ulama salafus shalih "sebagai bukti" bahwa kita “tidak merasa cukup dan puas” dengan hanya membunyikan huruf2 al Qur-an saja, tetapi nyata2 kita juga menginginkan untuk bisa mengetahui isi kandungan al Qur-an. Sebab kalau kita tidak mengetahui isi kandungan al Qur-an, lantas apa yang mau kita amalkan dari al Qur-an?

Marilah kita berikan apresiasi dan dukungan kepada para santri dan guru yang berjuang dan berusaha “menjaga al Qur-an” dengan memahami dan membumikan isi ajaran-ajaranya kepada masyarakat. Yaitu mereka yang siang malam dengan gigih bersusah payah mempelajari ilmu nahwu sharaf agar bisa membaca kitab gundul dan agar bisa membedah isi kitab-kitab kunng yang semuanya menjelaskan isi kandungan al Quran.
Wallahua'lam

HAKEKAT MEMBACA AL QURAN

Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, Allahumma shalli ‘ala sayyidina wa maulana wa habiibina wa syafii’ina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa baarik wa sallim.

Menurut saya, membaca al quran kita, itu belum seperti ‘membaca’ al quran yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw. Sebab perintah Rasulullah Saw. membaca, itu sebenarnya perintah untuk memahami isi al Quran, dan bukan sekedar perintah membaca dalam arti ‘membunyikan’ huruf-hurufnya saja. Padahal selama ini (dan bahkan --nampaknya-- akan selama-lamanya), bacaan quran kita hanya seperti itu, membunyikan huruf-huruf, menyuarakan lafadz-lafadz, tanpa mengerti apa ‘isi’ yang kita baca itu sama sekali.


Bukankah ini ‘sesuatu’ yang sangat aneh? Sesuatu yang sangat lucu? Tapi (sekaligus) juga sesuatu yang sangat memprihatinkan dan sangat memalukan? Bagaimana tidak? Bukankah al Quran itu kitab suci kita, pedoman hidup kita? Tapi mengapa kita telah merasa cukup bahkan merasa puas dengan ‘tidak mengetahui’ isinya apa? Bahkan sekedar ingin tahu ‘isinya apa’ pun (sepertinya) tidak tertarik? .
Astaghfirullahal ‘adziim. Sungguh ini merupakan kesesatan yang nyata, kekeliruan yang jelas, tapi tak disadari oleh kebanyakan umat islam.Kita umat islam, harus tahu isi al Quran, karena itu kitab suci kita, dan kita harus mengamalkannya karena itulah pedoman hidup kita. Ini harga mati, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan karena kita orang Indonedia, yang tidak faham sama sekali dengan bahasa Arab, maka seribu kalipun kita membaca al Quran (atau bahkan sampai hafal luar kepala), tetap saja kita tidak akan ‘mengetahui’ isinya.

Lantas bagaimana kita bisa mengetahui isi al Quran? Apakah kita harus membaca al quran dan tarjamahannya kemudian kita fahami sendiri apa maksudnya gitu? Tentu saja tidak!. Sungguh tidak ada jalan lain untuk bisa mengetahui isi ajaran al Quran dengan benar dan lurus, kecuali hanya dengan “memiliki majlis ngaji” yang disitu dibacakan kitab-kitab karya para ulama salafus salih, atau yang dikenal dengan kitab-kitab kuning.

Karena hanya kitab-kitab mereka itulah yang dengan tuntas dan ihlas ‘menjelaskan’ apa saja yang menjadi “isi ajaran” al Quran dan al Hadits sebagai “dua warisan” Rasulullah yang siapapun tidak akan tersesat selagi berpegang teguh kepada keduanya. Dan hanya para ulama lah “para pewaris” warisan itu.

Wallahu a’lamu bish shawaab, wahuwal mufaffiq ila aqwamit thariiq.
Sabtu Paing, Jam 12 WIB.(27 Juli 2013)

SHALAT BERMA'MUM KEPADA IMAM YANG TIDAK CERDAS

Suara adzan dhuhur menggema dari masjid di kampung yang kulewati, juga dari masjid-masjid di kampung-kampung lain, bersaut-sautan, menembus terik matahari siang, menggema mengumandang menyeruak menyerukan panggilan Tuhan di tengah kebisingan gegap gempitanya siang, di saat manusia terlena oleh beragam aktivitas kehidupan, agar tetap mengingatNya, agar tetap berbakti kepadaNya, agar tetap menyembahNya.

"Kita ke masjid untuk shalat dulu ya nak?" Aku memberitahu anakku. "Tapi, nanti kalau di masjid tidak boleh ramai. Tidak boleh lari-lari. Tidak boleh menangis. Tidak boleh pipis. apalagi e-ek Yaa?" aku mencoba menjelaskan pada anakku.
"Ya " Anaku mengangguk. Aku tak tahu jawabannya itu ia pahami atau tidak. Untuk anak seusia dia (3 th), yang penting aku sudah memberi tahu. Ia faham alhamdulillah, ia tidak faham tidak masalah. "Awas lho ya, bener lho, nanti kalau di masjid, tidak boleh omongan keras-keras, tidak boleh lari-lari, tidak boleh menangis" kataku sekali lagi, mengingatkan, mewanti-wanti. Anakku kembali mengangguk, seperti faham.
 

Sayang rasanya, kalau memungkinkan sholat berjama'ah di masjid, tapi malah shalat sendirian di rumah. Itulah sebabnya meski aku tidak berpakaian rapi dan hanya memakai kaos dan kain sarung saja, tapi aku tetap mencari masjid untuk bisa shalat berjama'ah. Aku yakin bahwa yang dilihat Allah bukan pakaianku tapi hati dan keihlasanku.
Sebab aku punya keyakinan, bahwa shalat itu kalau dilakukan secara berjama'ah, terutama di masjid, maka 
(1) pasti diterima 
(2) pasti sempurna 
(3) pahalanya pasti dilipatkan 27 kali. 

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Majmu' Musytamil 'Ala Arba'i Rosaail yang pernah aku kaji, sewaktu di pesantren. Sedangkan kalau dilakukan sendirian, maka shalat itu hanya akan diterima oleh Allah, sekadar seberapa khusyu'nya. Dan semua orang (yang mengerjakan shalat) tentu telah maklum, bahwa khusyu' bukanlah hal yang gampang. Kalau aku sendiri, terus terang semakin aku buat khusyu', maka justru semakin tidak khusyu'. Setiap kupejamkan mata supaya khusyu', akibatnya malah justru batinku menerawang semakin jauh, mengembara ke mana-mana, dan semakin tidak khusyu'.Karena itulah maka (1) aku berusaha untuk selalu shalat berjama'ah, (2) aku senang apabila imam mengerjakan shalatnya dengan cepat (tapi ya jangan cepat-cepat banget). Sebab imam adalah pemimpin jama'ah, dan setiap pemimpin wajib 'ngemong' jama'ahnya. Semakin banyak jama'ahnya tentu semakin banyak pula beda-beda 'kepentingan' mereka. Mungkin ada yang akan bepergian takut ketinggalan kereta api atau pesawat. Mungkin ada yang sakit tidak tahan kalau harus berdiri atau duduk lama-lama. Mungkin ada yang meninggalkan anaknya yang masih kecil yang sedang tidur, takut sewaktu-waktu bangun, merangkak dan jatuh. Mungkin ada yang punya penyakit 'ngentutan' atau 'nguyuhan' (dikit-dikit kentut, dikit-dikit kencing). Semakin banyak jama'ahnya, tentu semakin banyak pula beda-beda urusan mereka, dan imam wajib bertindak bijaksana ngemong kepentingan-kepentingan mereka itu .

Lagipula untuk apa imam berlama-lama dalam mengimami shalat jama'ah. Pasti hanya akan membuat orang malas ke masjid, sehingga masjidnya jadi sepi, tidak ada jama'ahnya. Juga hanya menampakkan bahwa dirinya bodoh, egois dan tidak bijaksana. Kalau ingin shalat berlama-lama, ya jangan ketika jadi imam, tapi ketika shalat sendirian (shalat sunat) di rumah terlebih ketika shalat tahajjud. Silahkan berlama-lama. Mau satu jam, dua jam, tiga jam, atau bahkan mau semalaman silahkan. Tapi jangan ketika menjadi imam. Karena imam itu tidak sendirian. Di belakangnya berdiri banyak orang dengan banyak urusan dengan banyak kepentingan. Itulah sebabnya Rasulullah Saw. bersabda yang artinya : "Apabila di antara kalian mengimami jamaah sholat, maka hendaknya ia memperpendek sholatnya. Karena di antara jamaah sholat ada anak-anak, orang tua, orang lemah, dan yang memiliki keperluan. Dan jika ia melaksanakan sholat sendiri, maka ia boleh melaksanakannya sekehendaknya." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, atau Muttafaq Alaihi).

Tapi sayang sekali imam masjid yang aku singgahi bersama anakku untuk berjama'ah shalat dzuhur, nampaknya kurang faham dengan keteladanan yang diberikan Nabi Saw. dalam hal mengimami shalat. Ia seperti tak menyadari bahwa di belakangnya berdiri banyak makmum dengan banyak kepentingan. Ia sungguh egois. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tak menghiraukan urusan makmumnya. Shalatnya sangat lama. Sangat lama sekali. Bayangkan. Selesai membaca al Fatihah, aku membaca surat an Nashr. Karena imam tak kunjung ruku', untuk mencegah supaya anganku tidak ngelantur kemana-mana, maka kulanjutkan dengan membaca surat al Lahab. Tapi karena imam tak kunjung ruku' juga, aku melanjutkan membaca surat al Ihlash. Ternyata imam belum ruku' juga. Maka aku lanjutkan dengan surat berikutnya, yaitu surat al 'Falaq. Ee, imam belum ruku' juga.
 
Akhirnya ketika aku mendengar anakku menangis, terpaksa aku mufaaroqoh, (memisahkan diri) dari jama'ah, dan kulanjutkan shalatku secara munfarid (sendirian) agar aku bisa mempercepat shalatku dan bisa segera mengurusi anakku. Nabi Muhammad Saw. juga pernah mempercepat shalatnya hanya karena beliau mendengar suara tangisan anak kecil. Beliau khawatir jikalau ibunya adalah salah satu diantara makmum beliau. Inilah ajaran Nabi yang cerdas, Nabi yang sangat arif dan bijaksana, Nabi yang sangat memperhatikan umatnya.

YANG MENYEBABKAN MURTAD (LANJUTAN)-2

Termasuk yang menyebabkan murtad yang berkaitan dengan aqidah, yaitu apabila ‘menghalalkan’ apa yang oleh para ulama telah disepakati ‘...