Wednesday, November 15, 2017

SHALAT BERMA'MUM KEPADA IMAM YANG TIDAK CERDAS

Suara adzan dhuhur menggema dari masjid di kampung yang kulewati, juga dari masjid-masjid di kampung-kampung lain, bersaut-sautan, menembus terik matahari siang, menggema mengumandang menyeruak menyerukan panggilan Tuhan di tengah kebisingan gegap gempitanya siang, di saat manusia terlena oleh beragam aktivitas kehidupan, agar tetap mengingatNya, agar tetap berbakti kepadaNya, agar tetap menyembahNya.

"Kita ke masjid untuk shalat dulu ya nak?" Aku memberitahu anakku. "Tapi, nanti kalau di masjid tidak boleh ramai. Tidak boleh lari-lari. Tidak boleh menangis. Tidak boleh pipis. apalagi e-ek Yaa?" aku mencoba menjelaskan pada anakku.
"Ya " Anaku mengangguk. Aku tak tahu jawabannya itu ia pahami atau tidak. Untuk anak seusia dia (3 th), yang penting aku sudah memberi tahu. Ia faham alhamdulillah, ia tidak faham tidak masalah. "Awas lho ya, bener lho, nanti kalau di masjid, tidak boleh omongan keras-keras, tidak boleh lari-lari, tidak boleh menangis" kataku sekali lagi, mengingatkan, mewanti-wanti. Anakku kembali mengangguk, seperti faham.
 

Sayang rasanya, kalau memungkinkan sholat berjama'ah di masjid, tapi malah shalat sendirian di rumah. Itulah sebabnya meski aku tidak berpakaian rapi dan hanya memakai kaos dan kain sarung saja, tapi aku tetap mencari masjid untuk bisa shalat berjama'ah. Aku yakin bahwa yang dilihat Allah bukan pakaianku tapi hati dan keihlasanku.
Sebab aku punya keyakinan, bahwa shalat itu kalau dilakukan secara berjama'ah, terutama di masjid, maka 
(1) pasti diterima 
(2) pasti sempurna 
(3) pahalanya pasti dilipatkan 27 kali. 

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Majmu' Musytamil 'Ala Arba'i Rosaail yang pernah aku kaji, sewaktu di pesantren. Sedangkan kalau dilakukan sendirian, maka shalat itu hanya akan diterima oleh Allah, sekadar seberapa khusyu'nya. Dan semua orang (yang mengerjakan shalat) tentu telah maklum, bahwa khusyu' bukanlah hal yang gampang. Kalau aku sendiri, terus terang semakin aku buat khusyu', maka justru semakin tidak khusyu'. Setiap kupejamkan mata supaya khusyu', akibatnya malah justru batinku menerawang semakin jauh, mengembara ke mana-mana, dan semakin tidak khusyu'.Karena itulah maka (1) aku berusaha untuk selalu shalat berjama'ah, (2) aku senang apabila imam mengerjakan shalatnya dengan cepat (tapi ya jangan cepat-cepat banget). Sebab imam adalah pemimpin jama'ah, dan setiap pemimpin wajib 'ngemong' jama'ahnya. Semakin banyak jama'ahnya tentu semakin banyak pula beda-beda 'kepentingan' mereka. Mungkin ada yang akan bepergian takut ketinggalan kereta api atau pesawat. Mungkin ada yang sakit tidak tahan kalau harus berdiri atau duduk lama-lama. Mungkin ada yang meninggalkan anaknya yang masih kecil yang sedang tidur, takut sewaktu-waktu bangun, merangkak dan jatuh. Mungkin ada yang punya penyakit 'ngentutan' atau 'nguyuhan' (dikit-dikit kentut, dikit-dikit kencing). Semakin banyak jama'ahnya, tentu semakin banyak pula beda-beda urusan mereka, dan imam wajib bertindak bijaksana ngemong kepentingan-kepentingan mereka itu .

Lagipula untuk apa imam berlama-lama dalam mengimami shalat jama'ah. Pasti hanya akan membuat orang malas ke masjid, sehingga masjidnya jadi sepi, tidak ada jama'ahnya. Juga hanya menampakkan bahwa dirinya bodoh, egois dan tidak bijaksana. Kalau ingin shalat berlama-lama, ya jangan ketika jadi imam, tapi ketika shalat sendirian (shalat sunat) di rumah terlebih ketika shalat tahajjud. Silahkan berlama-lama. Mau satu jam, dua jam, tiga jam, atau bahkan mau semalaman silahkan. Tapi jangan ketika menjadi imam. Karena imam itu tidak sendirian. Di belakangnya berdiri banyak orang dengan banyak urusan dengan banyak kepentingan. Itulah sebabnya Rasulullah Saw. bersabda yang artinya : "Apabila di antara kalian mengimami jamaah sholat, maka hendaknya ia memperpendek sholatnya. Karena di antara jamaah sholat ada anak-anak, orang tua, orang lemah, dan yang memiliki keperluan. Dan jika ia melaksanakan sholat sendiri, maka ia boleh melaksanakannya sekehendaknya." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, atau Muttafaq Alaihi).

Tapi sayang sekali imam masjid yang aku singgahi bersama anakku untuk berjama'ah shalat dzuhur, nampaknya kurang faham dengan keteladanan yang diberikan Nabi Saw. dalam hal mengimami shalat. Ia seperti tak menyadari bahwa di belakangnya berdiri banyak makmum dengan banyak kepentingan. Ia sungguh egois. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tak menghiraukan urusan makmumnya. Shalatnya sangat lama. Sangat lama sekali. Bayangkan. Selesai membaca al Fatihah, aku membaca surat an Nashr. Karena imam tak kunjung ruku', untuk mencegah supaya anganku tidak ngelantur kemana-mana, maka kulanjutkan dengan membaca surat al Lahab. Tapi karena imam tak kunjung ruku' juga, aku melanjutkan membaca surat al Ihlash. Ternyata imam belum ruku' juga. Maka aku lanjutkan dengan surat berikutnya, yaitu surat al 'Falaq. Ee, imam belum ruku' juga.
 
Akhirnya ketika aku mendengar anakku menangis, terpaksa aku mufaaroqoh, (memisahkan diri) dari jama'ah, dan kulanjutkan shalatku secara munfarid (sendirian) agar aku bisa mempercepat shalatku dan bisa segera mengurusi anakku. Nabi Muhammad Saw. juga pernah mempercepat shalatnya hanya karena beliau mendengar suara tangisan anak kecil. Beliau khawatir jikalau ibunya adalah salah satu diantara makmum beliau. Inilah ajaran Nabi yang cerdas, Nabi yang sangat arif dan bijaksana, Nabi yang sangat memperhatikan umatnya.

No comments:

Post a Comment

YANG MENYEBABKAN MURTAD (LANJUTAN)-2

Termasuk yang menyebabkan murtad yang berkaitan dengan aqidah, yaitu apabila ‘menghalalkan’ apa yang oleh para ulama telah disepakati ‘...