Suara adzan dhuhur menggema dari masjid di kampung yang kulewati,
juga dari masjid-masjid di kampung-kampung lain, bersaut-sautan,
menembus terik matahari siang, menggema mengumandang menyeruak
menyerukan panggilan Tuhan di tengah kebisingan gegap gempitanya siang,
di saat manusia terlena oleh beragam aktivitas kehidupan, agar tetap
mengingatNya, agar tetap berbakti kepadaNya, agar tetap menyembahNya.
"Kita ke masjid untuk shalat dulu ya nak?" Aku memberitahu anakku.
"Tapi, nanti kalau di masjid tidak boleh ramai. Tidak boleh lari-lari.
Tidak boleh menangis. Tidak boleh pipis. apalagi e-ek Yaa?" aku mencoba
menjelaskan pada anakku.
"Ya " Anaku mengangguk. Aku tak tahu
jawabannya itu ia pahami atau tidak. Untuk anak seusia dia (3 th), yang
penting aku sudah memberi tahu. Ia faham alhamdulillah, ia tidak faham
tidak masalah. "Awas lho ya, bener lho, nanti kalau di masjid, tidak
boleh omongan keras-keras, tidak boleh lari-lari, tidak boleh menangis"
kataku sekali lagi, mengingatkan, mewanti-wanti. Anakku kembali
mengangguk, seperti faham.
Sayang rasanya, kalau memungkinkan sholat
berjama'ah di masjid, tapi malah shalat sendirian di rumah. Itulah
sebabnya meski aku tidak berpakaian rapi dan hanya memakai kaos dan kain
sarung saja, tapi aku tetap mencari masjid untuk bisa shalat
berjama'ah. Aku yakin bahwa yang dilihat Allah bukan pakaianku tapi hati
dan keihlasanku.
Sebab aku punya keyakinan, bahwa shalat itu
kalau dilakukan secara berjama'ah, terutama di masjid, maka
(1) pasti
diterima
(2) pasti sempurna
(3) pahalanya pasti dilipatkan 27 kali.
Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Majmu' Musytamil 'Ala Arba'i Rosaail
yang pernah aku kaji, sewaktu di pesantren. Sedangkan kalau dilakukan
sendirian, maka shalat itu hanya akan diterima oleh Allah, sekadar
seberapa khusyu'nya. Dan semua orang (yang mengerjakan shalat) tentu
telah maklum, bahwa khusyu' bukanlah hal yang gampang. Kalau aku
sendiri, terus terang semakin aku buat khusyu', maka justru semakin
tidak khusyu'. Setiap kupejamkan mata supaya khusyu', akibatnya malah
justru batinku menerawang semakin jauh, mengembara ke mana-mana, dan
semakin tidak khusyu'.Karena itulah maka (1) aku berusaha untuk selalu
shalat berjama'ah, (2) aku senang apabila imam mengerjakan shalatnya
dengan cepat (tapi ya jangan cepat-cepat banget). Sebab imam adalah
pemimpin jama'ah, dan setiap pemimpin wajib 'ngemong' jama'ahnya.
Semakin banyak jama'ahnya tentu semakin banyak pula beda-beda
'kepentingan' mereka. Mungkin ada yang akan bepergian takut ketinggalan
kereta api atau pesawat. Mungkin ada yang sakit tidak tahan kalau harus
berdiri atau duduk lama-lama. Mungkin ada yang meninggalkan anaknya yang
masih kecil yang sedang tidur, takut sewaktu-waktu bangun, merangkak
dan jatuh. Mungkin ada yang punya penyakit 'ngentutan' atau 'nguyuhan'
(dikit-dikit kentut, dikit-dikit kencing). Semakin banyak jama'ahnya,
tentu semakin banyak pula beda-beda urusan mereka, dan imam wajib
bertindak bijaksana ngemong kepentingan-kepentingan mereka itu .
Lagipula untuk apa imam berlama-lama dalam mengimami shalat jama'ah.
Pasti hanya akan membuat orang malas ke masjid, sehingga masjidnya jadi
sepi, tidak ada jama'ahnya. Juga hanya menampakkan bahwa dirinya bodoh,
egois dan tidak bijaksana. Kalau ingin shalat berlama-lama, ya jangan
ketika jadi imam, tapi ketika shalat sendirian (shalat sunat) di rumah
terlebih ketika shalat tahajjud. Silahkan berlama-lama. Mau satu jam,
dua jam, tiga jam, atau bahkan mau semalaman silahkan. Tapi jangan
ketika menjadi imam. Karena imam itu tidak sendirian. Di belakangnya
berdiri banyak orang dengan banyak urusan dengan banyak kepentingan.
Itulah sebabnya Rasulullah Saw. bersabda yang artinya : "Apabila di
antara kalian mengimami jamaah sholat, maka hendaknya ia memperpendek
sholatnya. Karena di antara jamaah sholat ada anak-anak, orang tua,
orang lemah, dan yang memiliki keperluan. Dan jika ia melaksanakan
sholat sendiri, maka ia boleh melaksanakannya sekehendaknya." (Hadis
Riwayat Bukhari dan Muslim, atau Muttafaq Alaihi).
Tapi sayang
sekali imam masjid yang aku singgahi bersama anakku untuk berjama'ah
shalat dzuhur, nampaknya kurang faham dengan keteladanan yang diberikan
Nabi Saw. dalam hal mengimami shalat. Ia seperti tak menyadari bahwa di
belakangnya berdiri banyak makmum dengan banyak kepentingan. Ia sungguh
egois. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tak menghiraukan urusan
makmumnya. Shalatnya sangat lama. Sangat lama sekali. Bayangkan. Selesai
membaca al Fatihah, aku membaca surat an Nashr. Karena imam tak kunjung
ruku', untuk mencegah supaya anganku tidak ngelantur kemana-mana, maka
kulanjutkan dengan membaca surat al Lahab. Tapi karena imam tak kunjung
ruku' juga, aku melanjutkan membaca surat al Ihlash. Ternyata imam belum
ruku' juga. Maka aku lanjutkan dengan surat berikutnya, yaitu surat al
'Falaq. Ee, imam belum ruku' juga.
Akhirnya ketika aku mendengar
anakku menangis, terpaksa aku mufaaroqoh, (memisahkan diri) dari
jama'ah, dan kulanjutkan shalatku secara munfarid (sendirian) agar aku
bisa mempercepat shalatku dan bisa segera mengurusi anakku. Nabi
Muhammad Saw. juga pernah mempercepat shalatnya hanya karena beliau
mendengar suara tangisan anak kecil. Beliau khawatir jikalau ibunya
adalah salah satu diantara makmum beliau. Inilah ajaran Nabi yang
cerdas, Nabi yang sangat arif dan bijaksana, Nabi yang sangat
memperhatikan umatnya.